Mencintai Family Development Session (FDS) PKH

Oleh | Pada September 8, 2019

Memiliki keluarga sejahtera merupakan  impian seluruh orang. Memiliki anak-anak hebat tentu saja menjadi kebanggan orangtuaUntuk mewujudkan hal tersebut tentu saja orang tua juga harus berusaha untuk mendidik, mengasuh dan menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya. Tidak perlu berpendidikan tinggi untuk menjadi orangtua yang berhasil. Siapapun bisa menjadi orangtua yang berhasil dalam mendidik, mengasuh dan menjadi contoh yang baik untuk anak-anaknya.

Pemerintah melalui Kementerian Sosial yang kemudian ditetapkan oleh Direktorat Jaminan Sosial Keluarga,bahwa tidak hanya bantuan materi saja yang diberikan, namun pengetahuan berupa materi-materi sebagai upaya perubahan pola pikir Keluarga Penerima Manfaat (KPM) juga diberikan.  Materi-materi yang diberikan diantaranya: pengasuhan dan pendidikan anak, pengelolaan keuangan dan memulai usaha, kesehatan dan gizi, perlindungan anak, bidang pelayanan penyandang disabilitas berat, dan bidang peningkatan kesejahteraan lanjut usia.

Mencintai Family Development Session (FDS) PKH



Family Development Session (FDS) merupakan bagian dari bisnis proses Progam Keluarga Harapan (PKH) yang berupa pertemuan kelompok, yang digunakan sebagai wadah pemberian materi-materi yang sudah ditetapkan oleh Kementerian Sosial lewat modul-modul yang bertema sebagai upaya untuk mewujudkan tujuan PKH. Tujuan utama PKH yakni untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kualitas sumberdaya manusia terutama pada kelompok masyarakat miskin. Sedangkan secara khusus tujuan PKH terdiri atas: pertama, meningkatkan kondisi sosial ekonomi KPM, kedua, meningkatkan taraf pendidikan anak-anak KPM, ketiga, meningkatkan status kesehatan dan gizi ibu hamil, ibu nifas, dan anak di bawah 6 tahun dari KPM, empat, meningkatkan akses dan kualitas pelayanan pendidikan dan kesehatan, khususnya bagi KPM.

Pendamping sosial adalah ujung tombak keberhasilan FDS memang benar. Dengan kreatifitas dan cara penyampaian pendamping sosial kepada KPM tentang materi FDS menjadi salah satu faktor pendukung keberhasilan. Oleh sebab itu, pendamping sosial biasanya menyampaikan materi FDS kepada KPM dengan kemasan sangat interaktif, komunikatif, dan disertai contoh berupa film yang mengedukasi. Metode blended learning digunakan oleh pendamping sosial untuk menyampaikan materi-materi pada modul kepada KPM. Metode blended learning yaitu metode dengan memanfaatkan media video animasi, proses diskusi dan dialog antar peserta dan narasumber yang kompeten.

Setiap bulan pendamping sosial mengadakan pertemuan kelompok yang dapat dijadikan celah potensial yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pengetahuan dan kapasitas diri peserta PKH selaku sebagai Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS).  hal ini dilakukan dengan kesungguhan dan keikhlasan antara pendamping sosial dan KPM, maka tujuan dari adanya FDS akan tercapai. Namun bila kegiatan FDS tidak dijalankan dengan kesungguhan dan keikhlasan tidak mustahil jika materi yang telah disampaikan oleh Pendamping Sosial akan berakhir dengan sia-sia. Tidak sepenuhnya masalah tingkat pendidikan dan daya tangkap KPM, melainkan karena keinginan untuk maju yang membuat seseorang bisa menerima pengetahuan baru dan berani untuk berubah. FDS diharapkan dapat menambah wawasan, menciptakan perubahan cara pandang hidup baik dalam pola pendidikan anak, tatanan ekonomi, dan cara hidup sehat bagi ibu dan anak peseta PKH. Dengan begitu kualitas hidup KPM akan lebih mandiri dan berkualitas dari segi pengasuhan kepada anak, pendidikan, peningkatan perekonomian, pola hidup sehat dalam keluarganya, dan lain sebagainya.

Mendapatkan hasil yang sempurna dari adanya FDS sangatlah tidak mudah. Oleh sebab itu, meski sedikit materi dalam setiap sessi FDS yang bisa ditangkap oleh KPM itu sudah menjadi sebuah progres. Terlebih lagi materi FDS yang telah disampaikan selalu dipraktekan langsung kepada keluarga mereka masing-masing.

Adanya FDS tentu sangat bermanfaat tidak hanya kepada KPM, pendamping sosial yang menyampaikan mendapatkan manfaat pula dari adanya FDS. Diantaranya sebagai berikut: pertama, menumbuhkan kesadaran pendamping sosial dan KPM terhadap perlakuan mereka selama ini kepada keluarga, lingkungan sekitar maupun terhadap pribadinya sendiri. Kedua, meraba-raba pengalaman pribadi masing-masing (pendamping sosial dan KPM). Ketiga, Saling tukar pengalaman antara KPM dan pendamping sosial yang notabennya sebagian besar lebih muda dibandingkan dengan KPM, karena kebiasaan dan keinginan anak jaman dahulu dengan anak jaman sekarang tentunya mengalami perubahan. Misalkan: jika anak jaman dahulu sebagian besar hanya bisa patuh terhadap orangtua tanpa melihat hak-hak yang harus didapatkan seimbang dengan kewajiban. Jaman dahulu anak cenderung tidak diberikan hak untuk berpatisipasi dalam menentukan keputusan mereka tanpa perlawanan, anak jaman sekarang ingin diperhatikan hak mereka dengan ikut serta memberikan keputusan atas pilihan mereka, misalkan sekolah. Anak dan orangtua jaman dahulu memposisikan diri mereka hanya sebagai anak dan orangtua.

 Anak jaman sekarang ingin memiliki orangtua yang juga bisa dijadikan teman. Karena dengan begitu anak lebih nyaman untuk bercerita kepada orangtua. Keempat, sebagai alat kontrol dalam menjalani kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat. Kelima, sebagai solusi penyelesaian konflik dan dilema yang selama ini ditahan dalam pribadi masing-masing KPM, seperti contoh: terdapat salah satu KPM di Kabupaten Boyolali yang sebenarnya sudah sejak lama memiliki kegelisahan terkait keputusannya yang menyekolahkan anaknya di pondok pesantren.

 KPM merasa khawatir dan akhirnya bertanya kepada pendamping sosial bahwa apakah keputusannya bersama suami termasuk bentuk perlakuan salah yang dilakukan orangtua yang tidak baik untuk anaknnya karena jarang waktu kebersamaan mereka. Kelima, film atau video yang disajikan menjadi kisah inspiratif KPM, misalkan video Getun seorang anak disabilitas (tuna dhaksa) yang memiliki banyak kelebihan. Slah satu KPM menangis karena merasa kasihan dengan Getun dan juga malu kerena anaknya yang normal secara mental dan fisik tidak bias mandiri dan berprestasi seperti Getun.

Inilah contoh-contoh substansial dari adanya FDS dan PKH akan terus memiliki  pekerjaan rumah atau tantangan untuk menjadikan KPM tidak hanya sejahtera secara lahiriah saja melainkan secara psikis dan sosial juga.

https://www.kompasiana.com/asti30461/5af26327ab12ae63ef3828c3/rahasia-mencintai-family-development-session-fds-pkh

Asti  SOCIAL WORKER SETIAP MASA ADA ORANGNYA SETIAP ORANG ADA MASANYA

Express Your Reaction
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry

Join our list

Masukan Email aktif anda dan dapatkan pemberitahuan lewat email

Selamat Cek email Klik * Konfirmasi Ikuti*

Something went wrong.

Tags: , ,

Category: FDS PKH